Pagi itu, tanggal 28 Februari 2026,
langit Timur Tengah memerah. Ali Khamenei dikabarkan tewas. Pemimpin tertinggi
Iran itu gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Presiden Trump,
dengan gayanya yang khas dan tanpa empati, tanpa basa-basi mengumumkan kematian
itu ke seluruh dunia. "Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam
sejarah, telah mati," katanya menggebu-gebu.
Saya terhenyak. Bukan karena saya
pengagum Khamenei. Tapi karena saya tahu bahwa yang mati itu bukan sekadar
lelaki tua berjanggut putih. Yang mati itu adalah simbol. Simbol perlawanan
terhadap arogansi global yang kian menggila. Dan tiba-tiba saya teringat Tan
Malaka.
Aneh memang. Membandingkan pemimpin
tertinggi Iran dengan Bapak Republik yang terlupakan Indonesia. Tapi benang
merah keduanya terlalu kuat untuk diabaikan. Keduanya adalah pejuang tanpa
kompromi terhadap imperialisme. Khamenei memimpin Iran dengan satu prinsip
tegas. Tidak akan tunduk pada arogansi Barat dan Israel.
Ali Khamenei mewarisi estafet kepemimpinan
Ruhullah Khomeini. Ia sukses mengubah negara yang dikepung sanksi bertubi-tubi,
menjadi benteng ideologi yang ditakuti Barat. Puluhan tahun memimpin, tak
sekalipun ia menyerah pada kekuatan asing.
Tan Malaka pun juga begitu. Pelarian
abadi yang menolak bertekuk lutut itu pantang membengkokkan tulang punggung.
Bedanya, Tan Malaka tidak pernah mencapai puncak kekuasaan. Tan Malaka mati di
ujung senapan tentara republiknya sendiri. Kuburannya baru ketemu setelah
puluhan tahun diriset dan diteliti.
Ironi sejarah memang selalu
memilukan. Satu tokoh mati sebagai pemimpin, syahid di medan perang. Sedangkan
yang satu lagi mati sebagai buronan, dieksekusi bangsanya sendiri. Tapi
keduanya mewariskan hal yang sama. Keduanya mewariskan gagasan bahwa perang
melawan penindasan adalah perang total.
Selat Hormuz dan praktik Gerpolek Abad 21
Anehnya, kematian Khamenei bukan
akhir segalanya. Justru kematian suprime leader Iran itu membuka babak baru bagi
perlawanan yang lebih ganas. Penggantinya, Mojtaba Khamenei, segera menaikkan
tensi. Ratusan Drone Shahed murah diluncurkan ke Israel dan pangkalan AS.
Gencatan senjata pernah disepakati, namun selalu dilanggar di tengah jalan.
Negosiasi jalan di tempat. Dan yang paling krusial terjadi. Selat Hormuz ditutup
Iran dan diblokade AS.
Saya memandang peta dengan muram.
Jalur air sempit itu kini jadi panggung utama drama perang modern antara Iran
Vs AS dan Israel. Amerika memblokade pelabuhan Iran. Iran balas menutup selat.
Kapal dagang jadi sasaran. Harga energi global melonjak. 29 kapal sipil
diserang, 10 tewas, 1.600 kapal terperangkap.
Lalu saya teringat Gerpolek.
Tahun 1948, Tan Malaka menulis buku kecil yang luar biasa itu. Gerpolek:
Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Tiga elemen yang tak bisa dipisahkan dalam
perang melawan imperialisme. Ia menulis: "Sudah kepinggir kita
terdesak! Sampailah konon sisa-ruangan yang tinggal bagi kita dalam hal
politik, ekonomi, keuangan, dan kemiliteran."
Kalimat itu persis menggambarkan
posisi Iran pasca kehilangan Khamenei. Iran dikepung dan diblokade. Dihantam
sanksi berkali-kali. Pemimpinnya dibunuh. Ruang gerak politik dan ekonomi
menyempit.
Tapi di saat yang sama, Iran justru
mengubah keterdesakan menjadi kekuatan. Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar
aksi militer. Penutupan Selat Hormuz adalah aksi politik sekaligus ekonomi.
Inilah Gerpolek versi abad 21. Gerpolek yang memadukan taktik gerilya maritim
dengan tekanan politik dan manuver ekonomi.
Mengapa AS Frustrasi
AS boleh saja memamerkan kapal induk
dan rudal hipersonik. Israel boleh membanggakan Iron Dome. Tapi Iran tidak
gentar. Dengan drone murah seri Shahed 136, mereka mampu menyandera sepertiga
perdagangan minyak dunia. Perang dalam skala ini bukan soal teknologi. Perang
dalam skala ini adalah soal strategi.
Tan Malaka sudah mengingatkan: "Yang
menentukan kalah menangnya sesuatu perang adalah Ekonomi, Politik, dan Kemauan
Rakyat." Bukan mesin perang. Bukan pula kecanggihan teknologi.
Iran paham betul. Mereka kalah dalam
kekuatan militer dan jumlah alutsista. Mereka melakukan manuver lain. Mereka
merangkul Tiongkok dan Rusia, menciptakan aliansi ekonomi alternatif guna
memangkas efek sanksi. Mereka memainkan kartu politik di PBB, membangun narasi
sebagai korban agresi. Efeknya opini dunia terbelah.
Inilah yang membuat frustrasi AS dan
Israel. Lawan yang mereka hadapi bukan sekadar tentara, melainkan seluruh
rakyat yang dimobilisasi oleh ideologi. Drone murah, kapal-kapal kecil, dan
keyakinan ideologis itu cukup mampu untuk melumpuhkan logika perangkat keras
paling canggih dalam perang modern.
Perang semesta warisan Khamenei
Akankah Iran lumpuh setelah Khamenei
tiada? Jawabannya sederhama. Tentu saja TIDAK. Ketika pemimpin tertinggi Iran terbunuh,
justru lahir energi baru di hati rakyat. Energi yang menyulut perang akbar yang
disebut Tan Malaka sebagai perang rakyat semesta.
Dalam perang rakyat semesta, prinsip
jaminan sosial dan ekonomi harus dijaga. Sebab menurut Tan Malaka tanpa jaminan
sosial dan ekonomi sekaligus, rakyat akan kecewa dan berontak. Maka penting
untuk menjaga semangat juang dengan memperhatikan dua aspek penting itu. Kedua
prinsip inilah yang membuat Iran mampu bertahan. Mojtaba mewarisi bukan sekadar
jabatan, melainkan seluruh sistem perlawanan yang bertumpu pada rakyat: subsidi
bahan bakar, distribusi pangan lewat masjid, dan mobilisasi relawan.
Ketika pelabuhan diblokade, rakyat
mengandalkan jaringan distribusi paralel. Ketika universitas diserang,
mahasiswa bergerak jadi mata-mata. Ketika nilai tukar anjok, barter diansurkan
untuk solusi sementara. Inilah perang total yang melampaui medan tempur. Perang
semesta yang mencakup ekonomi, pendidikan, budaya, hingga spiritualitas.
Tapi saya juga terusik. Apakah perang
semesta Iran ini benar-benar perlawanan rakyat? Atau jangan-jangan hanya sekadar
alat elite politik?
Tan Malaka sendiri membedakan dua
jenis perang yakni “Perang Penindasan" dan "Perang
Kemerdekaan." AS dan Israel jelas masuk kategori pertama. Agresi
mereka menewaskan 3.000 jiwa, menghancurkan 150 situs sejarah, dan ribuan
bangunan sipil lainnya.
Tapi rezim Iran juga bukan tanpa
cela. Narasi perlawanan kerap digunakan untuk membungkam oposisi dalam negeri.
Partai Murba yang didirikan Tan Malaka sangat menolak perang yang hanya
melindungi kursi elite. Apakah Iran terjebak dalam kemunafikan serupa? Apakah
perang mereka sungguh-sungguh untuk rakyat, atau sekadar mempertahankan
kekuasaan Ayatollah?
Blokade Selat Hormuz memang brilian
sebagai strategi. Tapi Tan Malaka mengingatkan: perang kemerdekaan harus "diisi
dengan jaminan sosial dan ekonomi sekaligus." Tanpa itu, perang
tinggallah bisnis kematian yang hanya menguntungkan pedagang senjata.
Pagi yang Makin Terang
Saya lipat peta Timur Tengah itu.
Pagi makin terang. Di kejauhan, bayangan Tan Malaka dan Ali Khamenei seperti
berdiri berdampingan. Dua lelaki dari dua belahan dunia itu, mengajarkan hal
yang sama. Mereka mengajarkan bahwa kematian bukanlah kekalahan. Kematian
adalah awal keabadian. Keabadian ide, perlawanan, dan cinta pada tanah air.
"Siapa yang takut pada kematian,
dia akan kehilangan kehidupan," kata Tan
Malaka. Kematian Khamenei adalah bahan bakar. Tapi bahan bakar itu harus
disalurkan ke mesin yang tepat. Bukan mesin peperangan elite, melainkan mesin
kesejahteraan rakyat. Selama rakyat Iran masih percaya bahwa mereka berperang
demi kemerdekaan sejati, Selat Hormuz akan tetap bergelora. Dan kita, dari
kejauhan, hanya bisa menunggu: apakah api itu akan menerangi, atau justru
membumihanguskan kemanusiaan?
Pertanyaan yang sama persis yang
mungkin diajukan Tan Malaka, delapan puluh tahun lalu, di sebuah republik yang
masih bayi bernama Indonesia.




Posting Komentar