Bayangkan sejenak
seandainya Raden Ajeng Kartini tidak lahir di Jepara tahun 1879, melainkan di
era reformasi digital. Bayangkan pula bila Kartini tumbuh sebagai perempuan
terdidik yang menembus batas-batas struktural, lalu dilantik menjadi Menteri
Pendidikan Dasar dan Menengah era Presiden Prabowo. Lalu kebijakan apa yang
akan ia buat?
Imajinasi ini bukan
sekadar romantisme historis. Imajinasi ini adalah provokasi intelektual yang
mempertanyakan secara radikal, sudah sejauh apa kita mewujudkan cita-cita
elementer Kartini tentang pendidikan yang memanusiakan manusia? Sementara
realitas pendidikan kita masih terlihat compang-camping oleh krisis literasi,
kekerasan seksual, dan bullying yang merajalela?.
Membayangkan Kartini
sebagai menteri adalah upaya mengguncang kemapanan birokratis dalam dunia
pendidikan yang selama ini jarang kita persoalkan. Sebagai Menteri, Kartini
pasti tidak akan tampil sebagai teknokrat pendidikan yang sibuk dengan angka
partisipasi kasar atau nilai asesmen nasional. Kartini adalah seorang pemikir
visioner yang, sebagaimana diungkapkan Wardiman Djojonegoro dalam penelitiannya,
meyakini bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan sekadar mentransfer
pengetahuan.
Surat-suratnya kepada
Stella Zeehandelaar dan Nyonya Abendanon mendokumentasikan kemarahan yang
elegan terhadap sistem yang memproduksi ketimpangan dan kebodohan struktural.
Dalam salah satu suratnya yang terkenal, Kartini menulis: "Kami di sini
memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan
sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan
laki-laki dalam perjuangan hidup, melainkan karena kami yakin akan pengaruhnya
yang besar sekali bagi kaum perempuan, agar perempuan lebih cakap melakukan
kewajibannya." Jika diterjemahkan dalam konteks kekinian, ini adalah
kritik pedas terhadap sistem pendidikan yang gagal melindungi perempuan dan
anak-anak dari kekerasan.
Data Federasi Serikat
Guru Indonesia mencatat 60 kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang 2025,
dengan 28,33 persen di antaranya adalah kekerasan seksual. Menemukan data ini,
Kartini tidak akan tinggal diam. Ia tidak akan berhenti pada penerbitan
Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di
Lingkungan Satuan Pendidikan yang implementasinya masih setengah hati.
Kartini akan turun
langsung ke sekolah-sekolah, mendengarkan jeritan para korban yang selama ini
dibungkam oleh budaya patriarki. Ia akan membentuk satuan tugas khusus dengan
kewenangan penuh untuk menindak tegas pelaku, termasuk mencabut izin mengajar
predator seksual yang berlindung di balik jubah guru. Sebab Kartini yang
membaca Al-Quran dan memahami dimensi keislaman tentang kemuliaan perempuan
tahu betul bahwa melindungi anak adalah jihad pendidikan yang sesungguhnya.
Taman Pengetahuan
Rendahnya minat baca dan
literasi Indonesia adalah ironi yang akan membuat Kartini menangis di
pusaranya. Data UNESCO secara konsisten menunjukkan minat baca masyarakat
Indonesia yang rendah, hanya 0,001 persen dari jumlah penduduk. Artinya dari
1.000 orang, hanya satu orang yang membaca dengan serius. Skor PISA tahun 2022
untuk kemampuan membaca Indonesia juga stagnan di angka 359, jauh di bawah
rata-rata global 476. Pertanyaanya adalah bagaimana mungkin bangsa yang merdeka
dari kolonialisme fisik justru terjajah secara kognitif lewat rendahnya budaya
literasi?.
Kartini yang menulis 179
surat dalam bahasa Belanda dengan struktur argumentasi yang brilian tentu akan
meradang melihat generasi muda yang lebih fasih membuat konten TikTok daripada
menulis esai reflektif. Sebagai menteri, Kartini tidak akan terjebak pada
solusi simplistis seperti mewajibkan siswa membaca buku dan membuat resensi.
Kartini akan melakukan
revolusi literasi dari hulu ke hilir. Pertama, ia akan menata ulang kurikulum
agar pendidikan tidak sekadar mengejar capaian pembelajaran kognitif tetapi
menumbuhkan kegembiraan membaca. Kartini dalam surat-suratnya menunjukkan bahwa
membaca adalah pintu menuju kebebasan berpikir. Maka program "Pojok
Baca" yang selama ini sekadar pajangan akan ia sulap menjadi laboratorium
literasi di setiap sekolah, lengkap dengan buku-buku bermutu dan pendampingan
intensif dari guru yang terlatih.
Kedua, Kartini akan
menggandeng kementerian lain untuk memastikan setiap anak memiliki akses ke
bahan bacaan berkualitas. Sebagaimana ia dulu memohon buku dan majalah Eropa
untuk memperluas wawasannya, Kartini kontemporer akan membangun perpustakaan
digital nasional yang menjangkau daerah 3T, memutus rantai kelangkaan buku yang
melanggengkan kebodohan.
Ketiga, ia akan
mewajibkan setiap guru untuk menulis. Aminudin Aziz, Kepala Badan Bahasa,
pernah mengeluhkan bahwa anak muda sekarang semakin jarang menulis. Kartini
akan menjawab: bagaimana mungkin siswa bisa mencintai literasi jika gurunya
sendiri tidak pernah menghasilkan karya tulis? Maka pelatihan menulis bagi guru
akan menjadi program prioritas, bukan sekadar pelengkap.
Pendidikan Ramah
Kartini juga tidak akan menutup
mata terhadap kenyataan pahit di lingkungan sekolah. Banyak sekolah telah
berubah menjadi ruang menakutkan bagi anak-anak. Kasus siswa SD di Indragiri
Hulu yang meninggal setelah dipukul teman dan kakak kelasnya, atau pelajar SMP
di Tangerang Selatan yang tewas setelah sepekan dirawat akibat perundungan
adalah bukti bahwa sekolah gagal menjadi tempat yang aman.
Kartini yang membayangkan
sekolah sebagai taman akan bertindak tegas. Ia akan mewajibkan setiap satuan
pendidikan membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan yang benar-benar
berfungsi, bukan sekadar formalitas administrasi. Ia akan mendorong revisi
regulasi agar pelaku bullying dan kekerasan seksual di bawah umur tidak sekadar
dikembalikan ke orangtua, tetapi mendapatkan intervensi psikologis dan
pendampingan hukum yang proporsional. Lebih jauh, Kartini akan memasukkan
pendidikan karakter berbasis empati ke dalam kurikulum inti. Sebab ia memahami,
sebagaimana ditulis dalam surat-suratnya, bahwa pendidikan budi pekerti adalah
fondasi peradaban.
Apakah imajinasi ini
utopis? Mungkin. Tetapi justru di situlah letak strategisnya. Kita telah
terlalu lama menempatkan Kartini sebagai ikon emansipasi yang jinak, yang hanya
dirayakan dengan kebaya dan lomba memasak setiap 21 April. Padahal Kartini
adalah pemikir radikal yang mengguncang zamannya.
Jika hari ini Kartini menjadi menteri pendidikan, ia tidak akan diam
melihat sekolah-sekolah kita menjadi pabrik ijazah tanpa nurani. Ia akan
mengguncang kemapanan, membongkar relasi kuasa yang timpang antara guru dan
siswa, antara birokrasi dan sekolah, antara pusat dan daerah. Ia akan
menjadikan kementeriannya sebagai garda terdepan perlawanan terhadap segala
bentuk kekerasan dan pembodohan.
Pertanyaannya kemudian
adalah siapkah kita, para pemangku kepentingan pendidikan, untuk melangkah
merealisasikan utopia Kartini sebagai menteri di dunia nyata? Ataukah
jangan-jangan kita lebih nyaman dengan Kartini yang dibalsem dalam narasi resmi
yang tak mengganggu tidur kita? Akhirnya, selamat merayakan hari dan bulan
Kartini.
Penulis : Al Iklas Kurnia Salam
Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia yang suka membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer dan menonton film-film documenter. Sekarang ngajar di SMA Plus Cordova.




Posting Komentar