Kemudian model analisis kelas yang dipopulerkan—untuk tidak menyebut “anggitan”—filsuf Jerman yang brewokan itu dikembangkan oleh para pemikir setelahnya. Dan, bahkan, kalau kita mau jujur, sampai saat ini pemikiran Marx tetap relevan. Kalau saja ada pendaftaran seorang nabi (lagi), barangkali saya akan menyebut nama Karl Heinrich Marx pertama kali. Tapi sayang, jubah dan tahta kenabian sudah ditutup oleh Tuhan kaum borjuis dan kaum proletar itu.
Namun, sejauh ini, analisis kelas sosial Marxian tersebut hanya mampu menggetarkan bumi manusia dan segala persoalannya. Pemikiran Marx belum menyentuh dan menggetarkan “jagad batin” manusia. Oleh sebab itulah, model “analisis” seorang sufi agung bernama Ibn Atha’illah as-Sakandari seolah melengkapi kekurangan Marx itu. Tentu, akan banyak orang yang heran, apa hubungan Ibn Atha’illah dan Marx, sementara dari latar belakang pemikiran sudah amat jauh berbeda. Jika boleh digambarkan, seperti lirik lagu “Mangu”-nya Fourtwnty: “Marx di sana, Ibn Atha’illah di seberangnya”.
Maka dari itu, ulasan ini hanya akan mengulas secara ringkas “distingsi kelas” Ibn Atha’illah as-Sakandari dalam kehidupan manusia. Ya, anggap saja, ulasan ini sebagai salah satu ikthiar untuk merevitalisasi khazanah Islam klasik yang kerap dituding “kuno” oleh sarjana-sarjana kontemporer. Sehingga, ada dua pertanyaan yang akan dijawab dalam tulisan ini. Pertama, bagaimana analisis kelas Ibn Atha’illah as-Sakandari? Kedua, bagaimana pemikiran Ibn Atha’illah tersebut kita pahami dalam konteks sekarang?
Konsep Kelas Ibn Atha’illah: Tajrid dan Asbab
Mendengar nama mursyid ketiga Tarekat as-Syadziliyyah ini, tentu pikiran kita akan langsung dibawa pada salah satu magnum opus-nya, al-Hikam. Akan tetapi, sebenarnya Ibn Atha’illah merupakan ulama-sufi besar yang sangat produktif, dan kitab al-Hikam adalah salah satu karya yang sangat monumental, terutama di dunia pesantren. Tak bisa disangkal, bahwa kitab al-Hikam menjadi salah satu rujukan khazanah akhlak tasawuf di Bumi Nusantara ini. Barangkali hal itu disebabkan oleh kedalaman makna, dan untaian kata-kata indah yang ditulis Ibn Atha’illah dalam kitab tersebut.
Sebagai karya dalam bidang tasawuf, al-Hikam memiliki beberapa nasihat-nasihat yang menyejukkan dan menggetarkan hati seorang fasiq kala membacanya. Salah satu kata mutiara Ibn Atha’illah yang dapat menggetarkan jagad batin manusia ialah tentang tajrid dan asbab. Kedua hal ini bisa dianggap sebagai “dikotomi kelas” Ibn Atha’illah yang berkaitan dengan ilmu tasawuf (olah hati) dan tauhid. Secara tegas dan memukau, Ibn Atha’illah menulis tentang kedua konsep itu dalam al-Hikam sebagai berikut:
“Iradatuka at-Tajrid ma’a iqamatillah iyyaka fi al-Asbabi min al-Syahwati al-Khafiyyah, wa iradatuka al-Asbab ma’a iqamatillah iyyaka fi at-Tajrid inhitotun ‘an al-Himmah al-‘Aliyah.”Ulil Abshar-Abdalla, dalam Menjadi Manusia Rohani (Alif.id, 2021), menerjemahkan kalimat di atas semacam ini: “Kehendakmu untuk tajrid (mengisolasi diri, tidak berusaha), sementara Tuhan menempatkanmu pada maqam seorang yang harus berusaha, itu adalah sebentuk syahwat atau kesenangan nafsu yang tersembunyi. Sebaliknya, kehendakmu untuk berusaha, padahal Tuhan memberimu maqam sebagai seorang yang seharusnya tajrid, itu merupakan sebentuk kemerosotan kelas (maqam)”.
Salah seorang pensyarah kitab al-Hikam yang masyhur, Ibn Ajibah dalam kitab Ib’ad al-Ghumam ‘an Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam menyebut tiga klasifikasi tajrid: pertama, tajrid dhahir (meninggalkan segala urusan yang menyibukkan diri untuk taat kepada Allah; kedua, tajrid bathin (meninggalkan segala hal yang menyibukkan hati untuk “menghadap” Allah; ketiga, tajrid dhahir-bathin (menyendirikan atau membebaskan hati [hanya] untuk Allah). Dari ketiga klasifikasi ini, menurut Ibn Ajibah, tajrid dhahir-bathin (tajriduhuma ma’an) adalah yang paling sempurna (Ibn Ajibah, 2020: 27).
Sementara konsep asbab dimaknai sebagai maqam (kelas) seorang hamba yang diwajibkan untuk berusaha, ikhtiar, atau berpayah-payah dalam mencapai sesuatu. Artinya, konsep asbab ini menekankan pada wilayah ikhtiar yang harus dilakukan oleh manusia ketika mereka memiliki kehendak atas sesuatu. Sehingga, dari pengertian ini, konsep asbab tentu berbeda dengan konsep tajrid. Jika asbab lebih menekankan “usaha” manusia, tidak dengan tajrid. Dengan kata lain, konsep asbab menurut Ibn Atha’illah berkaitan dengan sebab-akibat (causality), sedang tajrid tidak bergantung pada kausalitas (nir-causa).
Dalam perspektif mursyid Tarekat as-Syadziliyyah itu memuat unsur ketauhidan yang kuat. Sebab, posisi kelas tiap-tiap manusia berbeda satu sama lain, dan hanya Tuhan-lah yang memiliki “hak prerogatif” untuk meletakkan Zaid di kelas ini, sementara Umar di kelas lain. Itu sudah kehendak Tuhan. Semau Dia mau bagaimana. Tetapi, jika ada seorang hamba ingin menuju kelas tajrid (yang semula dari kelas asbab) bisa dilakukan, menurut Ibn Ajibah, melalui bimbingan seorang guru.
Dengan demikian, kendati kelas tajrid dan asbab berbeda dari segi wilayah, tapi perbedaan itu bisa dilampaui dengan jalan tertentu (melalui bimbingan guru). Hanya saja, apakah kemudian seseorang yang berasal dari kelas asbab sampai ke kelas tajrid, sejauh ini hal itu tidak bisa dipastikan. Karena demikian adalah wilayah “garapan” Tuhan.
Memahami Tajrid dan Asbab dalam Konteks Kekinian
Secara umum, kedua konsep kelas (tajrid wa asbab) dalam pemikiran tasawuf Ibn Atha’illah itu memiliki perbedaan yang jelas. Kelas tajrid sama sekali tidak berhubungan dengan kausalitas (sebab-akibat), atau hukum alam. Sementara kelas asbab terikat dengan hukum kausalitas, di mana seseorang harus berusaha demi mencapai tujuan. Lantas, pertanyaan yang perlu dijawab kemudian: bagaimana kita memahami “dua kelas” Ibn Atha’illah tersebut dalam konteks kekinian?
Selama ini kitab al-Hikam dianggap sebagai sebuah karya sufistik yang sukar dipahami oleh orang awam. Tidak semua orang bisa menjelaskan pendar-pendar kebijaksanaan yang terkandung di dalam al-Hikam secara memadai. Demikian maklum, karena al-Hikam memuat aforisme-aforisme yang menurut sebagian ulama merupakan refleksi atas pengalaman spiritual Ibn Atha’illah sendiri. Tak terkecuali mengenai tajrid dan asbab ini.
Jauh berbeda dengan kaum Marxian, misalnya, yang melihat dua kelas dalam masyarakat saling “bertengkar” dan “menegasi” satu sama lain. Singkatnya, kaum borjuis dan proletar seolah-olah tidak akan pernah “akur”. Karena, menurut kaum ini, peradaban manusia bisa berkembang dan sudah sampai sejauh ini disebabkan oleh “pertentangan kelas”. Kelas satu mendominasi kelas yang lain. Kelas satu menindas yang lain. Sehingga, konsep kelas filsuf materialis itu dipahami secara negatif.
Namun, kita akan menemukan perspektif kelas yang berbeda ketika membaca konsep tajrid dan asbab dalam kitab al-Hikam. Karena, selain masing-masing kelas memiliki distingsi wilayah, tajrid dan asbab tidak dipahami dalam konteks sosiologis. Kedua konsep kelas Ibn Aatha’illah, bisa dipandang sebagai dua kelas yang berkaitan erat dengan hubungan hamba dengan Tuhan (hablu min Allah). Jadi, dua kelas itu bersifat vertikal, bukan horizontal. Bahkan, ihwal kedua maqam (kelas) ini, tidak bisa dibaca menggunakan “mata telanjang” atau teori analitik buatan manusia, seperti sosiologi, antropologi, atau epistemologi filsafat. Oleh sebab itu, “teori kelas” Ibn Atha’illah sangat berbeda dengan kaum Marxian.
Konsep tajrid dan asbab itu bisa dipahami melalui konteks kekinian. Misalnya, dengan meminjam istilah Marxian tadi. Kelas tajrid kita sebut sebagai “kelas borjuis”. Sementara kelas asbab adalah “kelas proletar”. Sehingga, pemahaman mengenai kedua kelas itu bisa berbunyi seperti ini:
Kalau sampean dikehendaki-Nya tergolong kelas proletar, kok tiba-tiba ingin naik kelas jadi borjuis, itu namanya syahwat. Dan kalau sampean sudah ditetapkan oleh-Nya di dalam kelas borjuis, kok justru sampean minta diletakkan ke dalam kelas proletar, itu berarti sebuah kemerosotan kelas.
Selain itu, kita juga bisa memahami kedua konsep Ibn Atha’illah ini dalam konteks seseorang. Misalnya, Mas Gibran Rakabuming Raka kita anggap sebagai kelas tajrid. Kemudian untuk kelas asbab kita ambil sosok Mbak Nur Afifah Balqis (korputor muda dalam sejarah Indonesia). Nah, kalau Mbak Nur Afifah memiliki keinginan untuk berada di posisi Mas Gibran, itu bisa disebut syahwat kekuasaan. Sebaliknya, jika Mas Gibran malah ingin menjadi (berada di posisi) Mbak Nur Afifah, itu berarti sebuah dekadensi kelas. Karena maqam keduanya jelas berbeda, dan itu ditentukan oleh “kehendak” penguasa. Tapi, orang-orang yang berada di kelas “korea” bisa menuju kelas Mas Gibran, asalkan bersedia dibimbing oleh “Raja Jawa”.
Tamsil-tamsil lain bisa digunakan dalam memahami konsep kelas Ibn Atha’illah tersebut. Yang jelas, tajrid dan asbab itu dua kelas yang berbeda. Tidak bisa disamakan. Kita, sebagai wong cilik, kalau mau sukses harus berusaha. Sedangkan, anak-anak orang kaya, tidak perlu susah payah ndelosor-ndelosor seperti kita. Mereka bisa menggunakan “nama baik” dan “kekayaan” orang tuanya.
Tamsil-tamsil lain bisa digunakan dalam memahami konsep kelas Ibn Atha’illah tersebut. Yang jelas, tajrid dan asbab itu dua kelas yang berbeda. Tidak bisa disamakan. Kita, sebagai wong cilik, kalau mau sukses harus berusaha. Sedangkan, anak-anak orang kaya, tidak perlu susah payah ndelosor-ndelosor seperti kita. Mereka bisa menggunakan “nama baik” dan “kekayaan” orang tuanya.
Semua sudah ditakar. Rejeki sudah ada yang ngatur. Hanya saja, dari sudut pandang kemanusiaan, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai titik tertentu. Demikian sudah hukum alam. Namun, kita jangan terlampau kaget, jika ada orang-orang yang memiliki usaha kecil, tapi justru mencapai hasil yang maksimal. Karena, bisa jadi, mereka berada di maqam tajrid, bukan asbab. Wallahu a’lam.
Posting Komentar