Kredit:darasfilsafat.com/IzatRamzi |
Seperti kembali ke masa kecil, sawah dan ladang
menjadi tempat bermain layangan, mencuri kelapa, menangkap burung bahkan membuat
bunyi-bunyian dari dedaunan. Namun, beberapa puluh tahun ini saya lebih akrab
dengan pantai, perahu, ikan dan segala yang berkaitan dengan kehidupan pesisir.
Area sawah yang sudah lama tak akrab
dengan kehidupan sehari-hari kini membentang. bukan untuk bertani melainkan
untuk sebuah pertunjukan. hampir sepenuh hari kami berada di sawah untuk
melakukan persiapan sambil menunggu badan beradaptasi dengan cuaca panas kadang
juga hujan, kami lalui hari dengan canda tawa sambil menggarap skenografi sebagai
tugas kami.
Di tengah candaan, Tak lupa kami sering
berdiskusi terkait isu iklim, curah hujan, tanaman bahkan pada proses
pengkaryaan dan apa-apa yang akan dihadirkan
dan digarap di hamparan sawah yang akan menjadi tempat pertunjukan dengan panjangnya berukuran 42
meter dan lebar 36 meter.
Sawah dibagi empat petak dengan spesifikasi area padi
yang sedang berbuah, area lumpur, area bibit padi, dan area sawah sudah panen
dengan doresnya yang terpasang di tengah pertunjukan.
Sebuah
proses
Satu-persatu teman-teman seniman muda dari
berbagai daerah mulai berdatangan. Ada yang dari rembang, jogja, Jakarta, Ponorogo, Riau, Jakarta, Madura, Bali, Depok, Jember dan Banyuwangi sendiri. Sebelumnya kami di pertemukan melalui zoom meeting dan saat ini kami
dipertemukan secara tatap muka sampai program ini selesai. Pertemuan dengan
kultur yang berbeda dengan satu isu penggarapan pertunjukan yang sama yakni
fenologi. Isu yang kemudian direspon oleh setiap devisi menjadi satu kekaryaan.
Sebuah pertemuan yang bukan hanya
membangun wacana fenologi namun juga membangun emosi satu dengan yang lain.
Agar juga terbangun saling keterkaitan kerja dari job disk dan untuk membangun sebuah tim
kerja yang solid dimana saling mengisi kekurangan, saling merespon karya, tentunya
dalam bingkai Reportoar Fenologi Mangsa
Iklim Mendidih (studio klampisan).
Disudut sawah, beberapa bambu dengan
ukuran yang beragam berbalut jarring di tancap berjejer dengan jarak tertentu,
seperti grafik curah hujan dari hasil pencatatan para petani. balon-balon rasi
bintang beterbangan di area sawah disapa dores dan nyanyian para petani yang
sedang bekerja. Anak-anak kecil berebut tali-tali balon bekejaran dengan para
performer. Tak ada angin, kolecer diam tak bersuara, hanya ekornya bergoyang
layaknya bebek yang lagi berenang. Sedang, dua sangkar burung dara (laser dan
proyektor) memancarkan sinarnya pada tumbuhan, pohon-pohon, dan setiap yang
berada di area melenakan para penonton yang hadir.
Pertunjukan dipentaskan selama dua hari, hari pertama pementasan di sore dan malam hari dan di hari kedua pementasan di
malam hari. Suasana sawah berubah menjadi ruang pertunjukan dengan permainan
cahaya laser, proyektor, lampu-lampu dan bunyi eksperimental. Tubuh-tubuh
performer berekspresi, mengajak penonton bermain dan berdialog. Sorakan
penonton seakan membenarkan presentasi seorang performer relate dengan situasi
dan kondisi yang di alami para petani. Para penonton tak kunjung beranjak hingga
pertunjukan selesai mereka asik menikmati kelangkaan pertunjukan di sawah yang mungkin
baru ada di banyuwangi.
Hingga pada akhirnya tiba pada waktu
berpisah. Satu persatu dari kami mulai kembali ke tempat masing-masing, pelukan perpisahan, tangisan mengiringi perjalan pulang membawa oleh-oleh
pengalaman dan ilmu yang kami dapatkan saat kita bekerja bersama di studio
klampisan.
Butuh berhari-hari untuk menetralkan atau membiasakan kembali pada realitas kehidupan di rumah karna tubuh sudah mulai terkontruksi dengan sebuah proses panjang bersama. Sekaligus tubuh mulai lebih peka atau lebih punya kesadaran pada iklim dan cuaca. khususnya pada kehidupan pesisir yang kadang angin sekaligus ombak datang secara tiba-tiba dengan adanya itu hingga malah membuat para pelaut gagal kerja. Kesadaran akan cuaca semakin tebal dalam diri saya walaupun yang saya temui setiap harinya ialah cuaca yang tak menentu, memang begitu sudah selalu berdekatan dengan kehidupan sehari-hari saya.
Penulis : Izat Ramzi
Posting Komentar