no fucking license
Bookmark

Pasar

Kredit : darasfilsafat.com/taufiqWrHidayat
Sahdan, tersebutlah seorang gila. Orang gila itu berlari-lari genting pada sebuah pasar. Ia berseru-seru penuh kegembiraan.
 
"Horeee.. . Tuhan sudah mati!" katanya. 
 
Tentu saja ucapan si gila itu menggelikan banyak orang. Tak satu pun memedulikan si gila tersebut. Si gila kecewa, ia membanting lentera di tangannya ke atas bumi. Lalu berseru, menyatakan dirinya menyesal, tiba terlalu cepat, di saat manusia belum menyadari, sebenarnya manusia sendiri yang sudah membunuh Tuhan. Atau suatu masyarakat.
 
Itu secuplik kisah novel termashur “Also sprach Zarathustra” atau “Sabda Zarathustra”. Novel Friedrich Nietzsche itu, agaknya mengilhami Francesco Guccini, menciptakan lagu dalam Bahasa Itali “Dio è morto" (Tuhan Sudah Mati). Pada tahun 1965, lagu tersebut dibawakan band Italia, Nomadi, menjadi hit yang digemari masyarakat. Barangkali manusia memang sudah benar-benar membunuh Tuhan.
 
Namun kenapa Zarathustra harus muncul di sebuah pasar? Kenapa pasar? Kenapa ia yang dianggap gila setelah menegaskan “Tuhan sudah mati” itu, tak mengkhotbahkan dalilnya di tempat peribadatan yang adalah tempat menyembah Tuhan? Kenapa ia teriak di tengah pasar, di sebuah tempat yang Tuhan memang sering diragukan, bahkan dianggap tak perlu ada karena selalu menghalang-halangi kebebasan transaksi uang dan barang, atau keributan-keributan balas dendam atasnama keadilan?
 
Barangkali di tempat peribadatan, tak mungkin orang melakukan kegiatan duniawi secara nyata. Di situ, Zarathustra hanya akan heran melihat orang beribadah, sedang si orang yang beribadah itu belum mendengar kabar, bahwa Tuhan sudah mati. Namun di pasar, segalanya terjadi. Ada barang, ada harga, makelar, tengkulak, penjual dan pembeli. Manusia berkumpul dengan satu kepentingan: jual-beli. Setelah itu, selesai.
 
Apa yang ideal, selalu melahirkan ironi. Dan segala upaya dan pencarian pada relevansi, selalu melahirkan paradoks. Dunia ini bayang-bayang dari sesuatu yang idealis itu, yang nasibnya hanya dalam imajinasi. Pada kenyataannya, dunia bergerak sendiri. Itu bagai si gila yang dimaki dan diusir di pasar ramai, lantaran membawa idealitas ke tengah realitas  kesibukan orang-orang atau suatu masyarakat yang mengharuskan semaksimal mungkin---dengan segala pengorbanan tak terkira, menghindari yang ideal.
 
Buat apa si gila teriak-teriak di tengah pasar? Itu norak dan tak waras! Idealisme tidak untuk dikhotbahkan, apalagi diceramahkan melalui lidah orang pintar. Melainkan sebuah bangunan dalam kepribadian yang dibuktikan dalam hidup yang tak meragukan, mungkin sebentuk integritas.
 
Tanpa begitu, yang ada cuma kecerewetan. Hidup yang cerewet, tanpa nilai. Mengutuk siapa pun dan apa pun, agar si pengutuk tampak atau dicitrakan baik. Sebentuk perilaku murahan dalam media sosial hari ini. Atau hanya supaya tampak tahu dan suci. Suatu komedi. Lucu. Dan menyedihkan.
 
Pasar dalam pengandaian Nietzsche pada novelnya yang tak lazim, mungkin sebuah panggung kehidupan yang dipenuhi para pemeran. Manusia memerankan apa saja di sana. Sebuah tatanan yang dipatri, dikokohkan, dijaga, dan tak bisa dipertanyakan. Mirip sebuah doktrin tentang iman. Sedang Tuhan---yang diiman-imani itu, telah dibunuh manusia secara sadar dengan mengokohkan sebuah bangunan sistem kehidupan sebagai doktrin kesibukan, politik, ekonomi, perang, dan entah apa lagi. Bangunan cor-coran semen dan baja, terlampau kuat dan permanen. Lalu dipergunakan mengkafirkan segala kebebasan dan kemungkinan-kemungkinan paling liar dari akal-pikiran manusia sendiri. Pada titik itu, Tuhan dibunuh. Dan mati!
 
Di sebuah pasar yang ramai itu, justru kesepian tercipta. Pertemuan sesaat, jenak, dan ringkas. Tak ada yang kekal di dalamnya, atau buang-buang waktu. Orang-orang berkumpul karena satu kepentingan yang sama: jual-beli. Dan di dalamnya, kepentingan ekonomi menguasai di benak masing-masing orang, masing-masing korporasi, bahkan negara. Hingga menjadi metafisik. Kekuatan kapital menjaya. Sedangkan yang tak berdaya, lumpuh di antara kedua kakinya.
 
Kemudian di mana Tuhan? “Fa ainallah?” tanya seorang gembala di masa kerasulan. “Eli, lamma sabachtani?” tanya Isa al-Masih. Dalam ketiadaan-pilihan hidup, segalanya menjadi tak ideal sebagaimana dalam imajinasi, segala yang relevan menjadi paradoks-paradoks yang jalin menjalin bagai mata rantai.

Penulis : Taufiq Wr Hidayat
Posting Komentar

Posting Komentar