no fucking license
Bookmark

Simulasi Kesadaran AI dalam Produksi Puisi

Ilustrasi AI

“AI bisa menulis puisi lebih hebat dari kita,” kata seorang teman penyair suatu malam, “tapi ia tak akan pernah bisa mengalami peristiwa yang melahirkan puisi itu.” Ia berkata demikian setelah kami berdiskusi panjang tentang kecanggihan sistem generatif dan masa depan ekspresi manusia. Baginya, yang tak tergantikan dari puisi bukan hanya signature atau metafora unik milik si penyair, melainkan keadaan batin yang menyertainya: rasa sakit, rasa sedih, harapan, kejutan, bahkan kejenakaan kecil yang muncul saat menulis. Hal-hal yang tak bisa disalin ke dalam algoritma.

Ia percaya menulis puisi merupakan perlawanan terhadap yang instan, yang otomatisasi. Seperti menggambar sketsa dalam posisi terbalik, atau menyikat gigi dengan tangan yang bukan dominan, puisi menantang jalur-jalur default dalam diri kita. Ia menyibak sesuatu dari reruntuhan rutinitas, dan di sanalah (katanya) kesadaran muncul. Bukan sebagai hasil akhir, melainkan sebagai kejadian yang berlangsung saat kita menggosok kata-kata dengan pengalaman batin.

Saya menyimak sambil berpikir bahwa apa yang ia katakan mungkin benar: AI bisa menang dalam banyak hal, bahkan dalam meniru puisi. Tapi pengalaman batin yang menyertai menulis puisi, pengalaman yang bukan hanya mental, tapi juga historis, material, dan ikatan tubuh, tetap milik manusia. Dan justru dari titik itu, kita bisa mulai bertanya ulang: apa sebenarnya yang dimaksud dengan kesadaran dalam konteks produksi puisi? Dan apa yang sedang terjadi ketika kerja simbolik manusia diambil alih oleh mesin yang tidak pernah bekerja, tidak pernah berkonflik, tidak pernah hidup dalam sejarah?

Dalam sejarah panjang kapitalisme, manusia bukan hanya dipisahkan dari alat produksinya, tetapi juga dari makna yang dihasilkannya. Kata-kata, seperti komoditas lainnya, perlahan menjadi objek yang bisa direplikasi, dijual, dinikmati, tanpa perlu dihidupi. Bahasa tak lagi harus tumbuh dari tubuh yang bekerja. Ia bisa dibekukan, dimampatkan, dan dikeluarkan ulang oleh sistem yang tak punya luka dan trauma. Di tengah transformasi inilah, muncul satu gejala mutakhir yang tak bisa kita abaikan: puisi yang ditulis oleh mesin.

Fenomena ini tampaknya menggoda sekaligus mengguncang. Kita terkadang terkesima oleh kepiawaian algoritma dalam meniru metafora, menyusun ritme, bahkan menyelipkan patahan emosi. Namun pertanyaannya bukan apakah AI mampu menulis puisi yang terdengar indah (ini pertanyaan dangkal yang hanya mengukur hasil dari permukaan). Pertanyaan yang lebih penting adalah: dari medan material macam apa puisi itu dilahirkan? Dan apa yang hilang ketika bahasa tidak lagi dihasilkan oleh tubuh yang mengalami kontradiksi sejarah, tetapi oleh sistem yang tidak pernah bekerja, tidak pernah berhasrat, tidak pernah merindu atau kehilangan?

Dalam logika produksi kapitalistik, ekspresi pun menjadi komoditas. Puisi bukan lagi bentuk resistensi, tapi lini produksi baru yang bisa digarap oleh mesin tanpa jam istirahat. Kapitalisme digital tidak lagi membutuhkan penyair sebagai penggali makna dari kegelapan sosial. Ia hanya perlu model prediktif yang bisa menyajikan ilusi ekspresi dengan cepat, konsisten, dan dapat dipasarkan. Maka AI hadir bukan sebagai ancaman karena ia “cerdas”, tapi karena ia mengisi kekosongan yang telah disiapkan oleh sistem: kekosongan di mana kesadaran telah dipreteli, dilepas dari praksis, dan dijadikan ilusi linguistik semata.

Yang dilupakan dalam perbincangan tentang AI dan puisi adalah bahwa puisi sejati tidak semata lahir dari kemahiran teknis. Ia lahir dari benturan antara subjek dan sejarahnya, dari kerja simbolik yang melibatkan tubuh, waktu, dan relasi produksi. Puisi adalah bentuk dari kesadaran yang terdesak, terdesak oleh struktur dunia yang tidak adil dan karena itu, berteriak. Ketika mesin mulai menulis puisi, ia mungkin bisa meniru bentuk jeritan, tapi tidak bisa mengalami ketakberdayaan yang membuat manusia menulisnya. Ia tidak pernah bertarung dengan bahasa karena ia tidak pernah dibungkam.

Bukan soal mempertahankan “kemurnian” manusia atas seni. Melainkan membuka ulang pertanyaan: apa yang menjadikan ekspresi itu otentik secara historis? Dan apa yang sedang dipertaruhkan ketika produksi simbolik manusia digantikan oleh simulasi simbolik dari mesin? Dalam dialektika Marxian, kesadaran tidak pernah berdiri sendiri. Ia tidak muncul sebagai cahaya dari langit. Ia adalah hasil dari hubungan sosial, dari kerja, dari posisi historis. Maka ketika puisi dipisahkan dari kerja, ia juga dipisahkan dari kesadaran.

Ironisnya, keberhasilan AI dalam menulis puisi justru menelanjangi kemunduran kesadaran manusia itu sendiri. Ia meniru karena yang ditiru telah kehilangan kedalamannya. Ia belajar dari puisi-puisi yang telah lama dilepaskan dari tubuh dan dijadikan bentuk estetis tanpa konflik. Maka, keberhasilan AI bukanlah karena kecanggihannya, tapi karena bentuk-bentuk kesadaran manusia telah direduksi menjadi pola-pola linguistik yang bisa diajarkan. Masyarakat kapitalis dikonstruksi secara dangkal dan repetitif. Sehingga puisi menjadi skema, bukan pergulatan. Dan ketika AI meniru puisi, ia sebenarnya sedang mengulang bentuk-bentuk yang telah dilucuti dari kerja dan konflik yang melahirkannya.

Maka, pertanyaannya bukan lagi sebatas apakah AI bisa menghasilkan bentuk-bentuk puisi yang terdengar “puitis”, tapi apa makna dari puisi itu sendiri ketika bentuknya tak lagi lahir dari tubuh yang bekerja. Untuk menjawabnya, kita harus kembali meninjau akar dari kesadaran: apakah kesadaran bisa disimulasikan? Ataukah ia merupakan produk dari sesuatu yang jauh lebih konkret—yakni kerja, sejarah, dan kontradiksi material? Di sinilah, teori materialisme historis memberi kita kunci.

**

Dalam kerangka materialisme historis, kesadaran bukanlah substansi batiniah yang melayang bebas dari tubuh dan sejarah. Ia pantulan dari gerak kontradiktif materi; sebuah bentuk refleksi aktif yang tak dapat dipisahkan dari praksis sosial manusia. “Kesadaran,” tulis Marx dalam The German Ideology, “tidak pernah bisa menjadi sesuatu selain keberadaan yang disadari.” Artinya, kesadaran manusia senantiasa terhubung dengan posisi materialnya dalam dunia, sebagai makhluk yang bekerja, berrelasi, dan terjerat dalam jaringan produksi historis.

Segala bentuk ekspresi kesadaran, baik agama, seni, moralitas, sampai puisi, adalah bentuk-bentuk yang mengendap dari relasi sosial-produktif tertentu. Mereka bukan gejala metafisik, tapi struktur ideologis yang berfungsi menengahi kontradiksi antara subjek dan tatanan material tempat ia berada. Dalam masyarakat kapitalistik, kesadaran manusia terasing karena kerja telah direduksi menjadi fungsi reproduktif dari akumulasi. Maka ekspresi seperti puisi pun tidak bisa dibaca secara netral. Ia adalah medan ideologis, tempat individu menggenggam, memutar, atau menolak alienasinya.

Dalam konteks ini, kemunculan kecerdasan buatan (AI) sebagai produsen puisi harus diletakkan dalam dialektika tersebut. AI bukan sekadar entitas teknologis, melainkan alat produksi simbolik yang lahir dari kebutuhan sistem kapitalisme untuk melipatgandakan nilai dari bentuk-bentuk kerja non-material. Ia adalah instrumen yang tidak bekerja dalam pengertian Marxian, tapi berfungsi menggantikan kerja simbolik manusia demi meningkatkan surplus value dalam ekonomi digital.

Kita harus berhenti memandang AI sebagai persoalan kesadaran versus non-kesadaran. Yang terjadi bukan perdebatan ontologis, tapi transformasi dalam basis produksi: subjek manusia yang semula memproduksi puisi melalui kerja simbolik kini digantikan oleh sistem yang mengotomatiskan hasil-hasil dari kerja simbolik itu sendiri. AI bukan penyair, tapi sebagai mesin komodifikasi ekspresi manusia, bekerja dengan memadatkan bentuk-bentuk estetis historis menjadi algoritma prediktif. Ia mengkristalkan pengalaman manusia menjadi data yang siap pakai. Tanpa mengalami, tanpa bekerja, tanpa menubuh.

Di sinilah letak pentingnya pemahaman tentang kerja sebagai inti dari kesadaran. Marx tidak pernah memisahkan kesadaran dari aktivitas praktis, terutama kerja sebagai tindakan transformasional terhadap alam dan masyarakat. Kesadaran lahir dari situasi konkret di mana manusia bertindak dalam dunia dan, dalam prosesnya, menciptakan kembali dirinya secara historis. Maka kesadaran yang sejati (jika istilah ini diizinkan) hanya mungkin tumbuh dari relasi dialektis antara subjek dan kerja historisnya.

AI tidak memiliki kapasitas untuk memasuki medan dialektis ini karena ia tidak mengalami alienasi. Ia tidak menghasilkan dirinya melalui kerja. Ia tidak membentur kenyataan. Ia tidak mengubah dunia, dan karena itu, ia tidak mengubah dirinya. Yang disebut sebagai “kesadaran” dalam AI hanyalah rekonstruksi formal dari ekspresi-ekspresi kesadaran manusia yang telah dibekukan menjadi data. Hal ini bukan pantulan aktif atas dunia, tapi simulasi bentuk dari dunia yang sudah dikomodifikasi. Kesadaran manusia, yang semestinya menjadi proses, menjadi arsip kaku yang bisa diakses, dikalkulasi, dan direplikasi.

Di sinilah fungsi AI sebagai alat ideologis menemukan momentumnya. Seperti yang ditegaskan oleh Louis Althusser, ideologi bekerja bukan hanya dalam teks atau wacana, melainkan dalam praktik material yang mengorganisasi subjek sebagai efek struktur. AI sebagai penulis puisi adalah bentuk teknologi ideologis yang menyajikan ekspresi sebagai “alami”, padahal ia adalah hasil dari proses rekoding kapitalistik atas bentuk-bentuk emosi manusia yang telah distandarisasi. Kita tidak hanya sedang menyaksikan puisi yang ditulis oleh mesin, tapi juga puisi yang telah direbut dari tubuh sejarah manusia dan dijadikan bentuk kosong dalam logika nilai tukar.

Lantas, apakah puisi manusia masih punya daya resistensi? Hanya sejauh ia mengakar kembali pada pengalaman kerja, luka, dan tubuh yang meyejarah. Hanya sejauh puisi itu bukan representasi dari estetika pasar, melainkan hasil dari kontradiksi yang dihidupi subjek dalam struktur materialnya. Dengan kata lain, puisi hanya mungkin menjadi tanda dari kesadaran sejati ketika ia adalah hasil dari pengalaman subjek yang hidup dalam relasi produksi (dan berusaha melampauinya).

AI tidak akan pernah punya bentuk itu. Ia bisa menyusun kata-kata tentang kehilangan, tapi tidak pernah kehilangan. Ia bisa meniru gaya kesedihan, tapi tidak pernah berada dalam kondisi sosial yang melahirkan penderitaan. Ia tidak punya sejarah, tidak punya tubuh, tidak punya posisi dalam mode produksi. Maka ia tidak pernah bisa menulis puisi dalam pengertian yang sungguh-sungguh dialektis dan historis, karena ia tidak hidup dalam kontradiksi.

Tapi yang mengkhawatirkan bukan bahwa AI menulis puisi, melainkan bahwa manusia mulai menerima puisi sebagai produk tanpa konflik, tanpa sejarah, tanpa tubuh. Di sinilah bahaya ideologis AI: ia tidak hanya mencuri bentuk dari kerja simbolik manusia, tapi juga membunuh kesadaran akan kerja itu sendiri. Ia menyulap hasil dari proses historis menjadi produk ahistoris yang bisa dikonsumsi tanpa rasa bersalah. AI menghapus jejak tubuh dari bahasa.

Dalam konteks ini, mempertahankan puisi sebagai bentuk kesadaran manusia bukanlah urusan estetika. Ia adalah tindakan politis: untuk mengembalikan bahasa kepada tubuh, untuk mengembalikan ekspresi kepada kerja, untuk mengembalikan makna kepada sejarah. Puisi yang benar bukan puisi yang indah, tapi puisi yang ditulis oleh tubuh yang bekerja dan sadar bahwa dirinya sedang terjebak dalam sejarah.

Dan kesadaran, sebagaimana ditunjukkan oleh Marx, tidak pernah hadir di luar dunia. Ia hadir sebagai proses dalam dunia, sebagai upaya subjek untuk memahami, melawan, dan mengubah kondisi yang membentuknya. Maka puisi, jika ia masih ingin hidup, harus menolak menjadi bentuk. Ia harus kembali menjadi proses. Harus kembali menjadi cermin pecah dari dunia yang pecah. Dan AI, sejenius apa pun, tidak akan pernah bisa menulis dari tempat itu. Karena tempat itu bukan kumpulan kata, melainkan medan sejarah


Penulis : Kim Al Ghozali lahir di Probolinggo dan tinggal di Surabaya. Buku terbarunya: Setelah Deru Paku dan Palu (Penerbit JBS, 2025).


Posting Komentar

Posting Komentar